Dolar Naik, Untung Apa Buntung?

Seputarnews.com /

Oleh : Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat.

HEBOH lagi.
Dunia medsos kita tidak pernah sepi. Kali ini giliran dua tokoh beken yang baku hantam argumen. Seru sekali. Antara Prof Rhenald Kasali dan praktisi bisnis Bang Bennix.

Tema debatnya klasik tapi sensitif: rupiah melemah. Rupiah lagi keok terhadap dolar AS.
Bennix punya logika menarik. Katanya, Indonesia justru untung kalau rupiah melemah terus. Lho? Kok bisa? Logikanya masuk akal kalau kacamata yang dipakai hanya satu: kacamata eksportir.

Ada konten kreator @Aliftowew yang penjelsannya membuat saya tertegun. Dia ternyata akademisi ITB yang konon namnya Alif Hijriah. Dia bahkan pernah diundang Presiden Prabowo mempresentasikan analisanya dalam beberapa masalah ekonomi negara.

Penjelasan begitu ringkas tapi jelas, memudahkan kita memahami polemik tersebut.

Saya suka cara Kang Alif menganalisa. Pakai hitungan dingin. Namanya *Cost-Benefit Analysis (CBA). Analisis untung-rugi.

Dengan segala keterbatasan prmahaman, saya mengajak kita belajar bersama agar sedikit mendapat pencerahan.

Mari kita simak cara Kang Alif menganalisa.

Kita lihat dulu sisi “untung”-nya versi Bennix.

Tahun 2025, proyeksi nilai ekspor kita luar biasa: USD 282 miliar. Nah, ketika rupiah keokโ€”katakanlah melorot sekitar Rp1.155 per dolar sejak awal tahun sampai akhir Meiโ€”maka konversi dolarnya melonjak.
Rumusnya sederhana: nilai ekspor dikali selisih pelemahan kurs. Hasilnya? Sektor ekspor kita mendapat tambahan angin segar sebesar Rp326,94 triliun! Fantastis.

Inilah yang bikin Bennix tersenyum. Inilah dasar klaim “Indonesia untung besar”.
Tapi, tunggu dulu.

Ekonomi itu seperti koin. Punya dua sisi. Jangan hanya melihat sisi yang mengkilap, lalu menutup mata pada sisi yang berkarat.
Mari kita balik koin itu. Kita lihat sisi “buntung”-nya.

BACA JUGA  Ketua DPRD Jabar Berharap Anggota Baru Dapat Segera Beradaptasi

Indonesia ini negara industri. Tapi sayangnya, industri kita masih “manja”. Struktur impor kita bukan barang konsumsi mewah, melainkan bahan baku dan barang modal. Menurut data BPS, angkanya mengerikan: 90,73 persen impor kita adalah untuk bahan baku produksi! Nilainya mencapai USD 219,93 miliar.

Begitu rupiah melemah, pabrik-pabrik kita menjerit. Biaya impor bahan baku ikut membengkak sebesar Rp279,5 triliun.

Kalau kita kurangi tambahan ekspor tadi dengan pembengkakan impor, memang masih ada sisa surplus sekitar Rp47,44 triliun. Masih untung?
Belum.

Badai sesungguhnya baru datang dari dua arah ini: inflasi dan utang luar negeri.

Mari kita hitung inflasinya. Karena bahan baku impor makin mahal, pengusaha tentu tidak mau rugi. Biaya itu dibebankan ke siapa? Ya ke kita. Ke konsumen. Namanya *imported inflation*. Harga gandum naik, susu naik, kedelai naik, gula putih ikut naik.

Dari hitungan kalkulasi makro, pelemahan kurs ini memicu inflasi sekitar 0,13 sampai 0,15 persen. Kecil? Jangan salah. Konsumsi rumah tangga kita itu menyumbang 54,36 persen dari PDB kita. Artinya, rakyat Indonesia harus nombok tambahan biaya hidup sebesar Rp16,83 triliun hingga Rp19,42 triliun!

Lalu, ini dia rajanya masalah: Utang Luar Negeri (ULN).
Posisi ULN kita di triwulan pertama berada di angka USD 433,4 billion. Ketika rupiah melemah Rp1.155 per dolar, beban utang kita otomatis membengkak. Berapa tambahannya? Rp500,85 triliun!
Uang dari mana untuk membayar selisihnya?

Mari kita jumlahkan semua pos “buntung” itu: pembengkakan impor, tambahan beban inflasi rakyat, plus lonjakan utang luar negeri. Total jenderal biaya kerugiannya mencapai Rp799,77 triliun.

Sekarang, kurangi keuntungan ekspor yang Rp326,94 triliun tadi dengan total kerugian Rp799,77 triliun. Hasil akhirnya minus besar: kita tekor alias **defisit Rp472,83 triliun**!

BACA JUGA  Masyarakat di Jawa Barat Belum Memahami Manfaat Ekologi dan Ekonomi

Jadi, untung atau buntung?
Secara agregat nasional, angka tidak bisa bohong. Kita buntung besar.

Lalu, apakah tidak ada negara yang justru kaya raya saat mata uangnya melemah?

Ada. Tiongkok contohnya.
China itu sengaja membuat mata uang Yuan mereka tetap kompetitif cenderung melemah. Mengapa mereka bisa untung? Karena struktur ekonominya sudah kokoh. Ekspor barang jadi mereka raksasa. Impor bahan bakunya kecil. Utang luar negerinya minim. Ditambah lagi, cadangan devisa mereka terbesar di dunia. Mereka punya bumper yang tebal.

Kita? Belum sampai di sana.
Kalau Indonesia mau untung saat rupiah melemah, syaratnya berat. Kita harus selesaikan tiga pekerjaan rumah yang mendesak.

Pertama, stop ekspor bahan mentah. Genjot hilirisasi sekencang-kencangnya agar nilai ekspor kita melonjak berlipat ganda.

Kedua, swasembada pangan dan energi harus sukses. Harga mati. Biar kita tidak dikit-dikit impor gandum, impor kedelai, atau impor minyak.

Ketiga, kurangi utang luar negeri berdenominasi dolar.

Bagaimana kita menyikapinya?
Jangan panik. Panik tidak akan menurunkan harga dolar. Tapi juga jangan abai dalam optimisme semu seolah-olah semua baik-baik saja.

Solusi terbaik ada pada kedewasaan kita masing-masing. Di tingkat mikro, di dompet kita sendiri.

Caranya sederhana tapi konkret: kurangi belanja barang impor. Beralihlah ke produk lokal. Kalau Anda suka kopi, minumlah kopi lokal, bukan kopi waralaba asing. Kalau mau beli baju, belilah produk lokal. Langkah kecil ini kalau dilakukan bersama-sama akan mengurangi tekanan terhadap dolar.

Bagi para pelaku industri, mulailah kreatif mencari substitusi bahan baku lokal. Jangan malas mencari alternatif di dalam negeri.

Ekonomi nasional adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah menjaga makronya, kita jaga mikronya dengan bijak belanja. Hanya dengan begitu, saat rupiah sedang keok, bangsa ini tidak ikut ambruk.

BACA JUGA  Wagub Jabar Peringati HUT ke-75 Kemerdekaan RI Jadi Momentum Tingkatkan Daya Saing Bangsa

Mari kita ikat pinggang lebih kencang. Lebih bijak, lebih lokal.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *