by

Menjadikan Ilmu sebagai Bekal Pemuda Memimpin Peradaban

Seputarnews.com/

Oleh : Siti Susanti, S.Pd.

Pemuda merupakan harapan setiap bangsa. Maju mundurnya sebuah peradaban berada di pundaknya. Ia adalah sebuah kekuatan di antara dua kelemahan, yaitu masa kanak-kanak dan masa tua.

Peranannya sangat dibutuhkan di sepanjang masa. Apalagi, di kondisi pandemi saat ini. Sebagaimana diketahui, pandemi memukul mundur situasi dan kondisi, terutama ekonomi.

Terkait ini, Wakil Gubernur Jawa Barat ajak pemuda satukan visi membangun bangsa. “Semua harus satu visi, pandangan, dan paradigma. Begitu pun derap langkah yang sama seluruh pemuda di Jawa Barat untuk Jabar Juara Lahir dan Batin,” ucap Wagub, dalam talkshow radio ‘Semangat Pemuda Milenial dalam Mendorong Percepatan Pemulihan Ekonomi di Jawa Barat’. ( jabarprov. go.id, 27/10/2021)

Berbagai perubahan sangat dinantikan, agar situasi kondisi menjadi lebih baik. Dan peranan pemuda, diyakini yang akan membawa perubahan tersebut.

Sangat disayangkan, jika potensi pemuda hanya dibatasi pada aspek ekonomi semata. Karena jika ditelusuri, penyebab karut marut perekonomian saat ini tidak lain akibat penerapan sistem  kapitalistik, dimana untung rugi secara materi itulah yang menjadi pertimbangan utama. Pandemi yang berlarut, dianggap sebagai akibat penanganan yang lambat karena lebih mementingkan aspek ekonomi.

Sehingga, jika masih dalam bingkai Menjadikan Ilmu sebagai Bekal Pemuda Memimpin Peradabansistem kapitalistik, gerakan pemuda dalam bidang ekonomi dikhawatirkan hanya akan menguntungkan mereka para pemilik modal besar. Adapun rakyat dan pemuda termasuk di dalamnya, dilibatkan hanya sebagai pekerja dari proyek-proyek pengusaha.

UNICEF bersama Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melakukan sensus terbatas mengenai anak putus sekolah pada September-Desember 2020. Hasilnya, 1 persen atau sekira 1.243 dari 122.235 anak usia 7-18 tahun putus sekolah selama pandemi Covid-19.

Spesialis pendidikan UNICEF Suhaeni Kudus mengatakan, penyebab anak usia 7-18 tahun yang putus sekolah selama pandemi Covid-19 mayoritas karena tidak adanya biaya. (PikiranRakyat.com, 16/8/2021)

Sangat disayangkan, jika sejak SD sudah putus sekolah, tentu akan berakibat kepada masa depan anak-anak Indonesia, yang seharusnya disiapkan menjadi pemuda harapan bangsa.

Jika menilik pada sejarah peradaban Islam, ditemukan banyak pemuda luar biasa, yang memberi peran besar dalam peradaban manusia. Diantaranya, Mush’ab bin Umair. Di saat usianya belum lagi tiga puluh tahun, beliau sudah menjadi duta Islam ke Yatsrib. Melalui dakwahnya, para pemuka Yastrib masuk Islam, dan kemudian masyarakatnya siap menerima kedatangan hijrah Nabi dengan segala konsekuensinya. Kota ini kemudian menjadi tonggak awal  pemerintahan Islam bernama Madinah.

Adapun shahabat-shahabat Nabi yang lain, rata-rata berusia muda. Ali bin Abi Thalib usia 8 tahun memeluk Islam kemudian menjadi ahli strategi perang, intelektual muda, ahli tafsir, dan hikmah. Zaid bin Tsabit shahabat berusia muda yang dipercaya sebagai sekretaris Nabi.

Jauh sepeninggal beliau SAW, pada tahun 800an, Al-khawarizmi dalam usia  kurang dari 30 tahun sudah menjadi ahli matematika, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Aljabar, penemu algoritma dan angka nol. Pada tahun 1400an, Muhammad Al-Fatih dalam usia 21 tahun mampu menaklukkan konstantinopel.

Kedahsyatan peradaban Islam telah banyak diakui, diantaranya oleh National Geographic  yang menjelaskan tentang 1001 ilmuan dan penemuan muslim di masa keemasan Islam (1001 Inventions, third edition), yang tentunya, pemuda berada di dalamnya.

Sejatinya, bekal utama dan pertama bagi pemuda adalah ilmu. Sebagaimana ayat pertama kali yang  turun dalam Al-Quran adalah surat Al-Alaq berbunyi iqra artinya bacalah.

Itulah mengapa, dalam perjalanan sejarah penerapan Islam, aktivitas belajar dan mengajar menjadi hal yang sangat diperhatikan. Hal ini karena dorongan iman, dimana Allah berjanji akan meninggikan derajat orang-orang berilmu (lihat QS. Al-Mujadalah ayat 11)

Oleh karena itu, secara individual, kaum muslimin memiliki semangat yang tinggi untuk belajar dalam rangka meraih derajat mulia di sisi Allah.

Di sisi lain, negara memberikan fasilitas belajar mengajar kepada masyarakat. Luar biasanya, diberikan oleh negara secara gratis dan berkualitas. Hal ini menjadi amanat yang berada di pundak negara sebagai pelayan masyarakat sebagaimana hadist Nabi SAW:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”(HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Bentuk pelayanan termasuk dalam menyediakan pendidikan bagi rakyatnya.

BACA JUGA : HARI PAHLAWAN “Ridwan Kamil Ajak Pemuda Perang Lawan Kebodohan dan Kemiskinan”

Selain itu, aghniya (golongan kaya) berlomba untuk membuka sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi, mewakafkan harta yang mereka miliki, dan memberikan pelayanan pendidikan secara gratis pula kepada masyarakat, untuk memperoleh kemuliaan pahala di sisi Allah SWT.

Kondisi seperti itu pulalah yang dibutuhkan pemuda saat ini, ditempa akal mereka dengan berbagai pengetahuan, sebagai bekal menjadi pemimpin peradaban.

News Feed