by

Investasi dan Kesejahteraan Perempuan

Seputarnews.com /

Investasi dan Kesejahteraan Perempuan

Oleh Siti Susanti, S.Pd.

Jawa Barat merupakan provinsi yang sangat penting di Indonesia karena memiliki andil menyumbangkan sekitar 13 persen dari total ekonomi Indonesia.

Selain wilayah yang luas dan memiliki ragam potensi pengembangan, Jabar juga memiliki potensi penduduk yang besar yakni 17 persen dari total nasional. Demikian pula keberadaan industri terbanyak ada di Jabar.

Jabar juga masih tetap mendominasi investasi. Selama Januari hingga September, investasi dalam negeri di Jabar mencapai Rp45,3 triliun (13,8 persen nasional). Sementara investasi modal asing mencapai 4,2 miliar dolar AS (18,7 persen).

Sebagai seorang perempuan jika boleh mewakili suara hati kaum perempuan, berharap bahwa investasi yang dilakukan dapat memberi kesejahteraan bagi masyarakat termasuk bagi perempuan.

Harapan ini mengingat pekerja migran perempuan saat ini masih tinggi. Demikian pula, sebagian perempuan terpaksa bekerja karena dorongan ekonomi, memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin hari semakin meningkat karena harga-harga barang dan jasa yang naik.

Jangan sampai, berbagai investasi yang dilakukan hanya menguntungkan para pemilik modal besar, adapun perempuan mendapat remah-remah kekayaan, padahal sudah mengerahkan segala daya tenaga untuk mendapatkannya.

Potret kehidupan kapitalistik saat ini sangat terasa, dimana kehidupan berpihak kepada para kapitalis. Dalam sistem ini, siapapun yang memiliki modal besar, seolah memiliki kuasa untuk memiliki apapun.

Dalam sistem kapitalistik, kehidupan berjalan seolah hutan rimba, siapa yang kuat dialah yang akan memenangkan pertarungan. Dalam hal ini, siapa yang memiliki modal besar, dialah yang akan meraup keuntungan.

Di sisi lain, ukuran sejahtera dalam sistem kapitalisme dihitung berdasarkan rata-rata. Dengan ini, tentu tidak akan dapat mengukur secara ril kondisi sejahtera individu per individu.

Adapun pertumbuhan ekonomi, diukur berdasar aspek produksi. Sehingga investasi dianggap sebagai salah satu indikator keberhasilannya.

Menurut penulis, sistem kapitalisme tidak cocok dijadikan sebagai sistem yang mengatur kehidupan manusia apalagi untuk perempuan.

Ditambah lagi, akses untuk mendapat kebutuhan asasi masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan yang berkualitas terasa sulit, seolah hanya milik mereka yang berkantong tebal saja.

Jika merujuk kepada Islam, kita akan dapati bahwa ukuran sejahtera ditentukan orang perorang, dalam memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan papan.

Berdasarkan ini, jika satu orang saja bermasalah dalam memenuhi kebutuhan pokok maka akan diselesaikan.

Manusia memiliki potensi masing-masing, ada yang diberi kemampuan dari segi modal namun tidak mampu mengelola usaha. Ada juga yang mampu bekerja tetapi tidak memiliki modal. Terkait ini, Islam membolehkan syirkah (kerjasama) antar manusia dilatabelakangi potensi yang berbeda tadi.

Namun perlu diperhatikan, Islam menjadikan setiap aktivitas harus senantiasa terikat dengan syariat termasuk dalam menjalani investasi.

Harta yang halal dan usaha yang halal menjadi poin yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, tidak diizinkan untuk berinvestasi pada produksi khamr(miras), budi daya ganja, dan pembalakan misalnya.

Demikian pula, tidak diizinkan aktivitas mengandung penipuan dan transaksi ribawi.

Terkait subyek/pelaku investasi, terlarang melakukan investasi dengan pihak-pihak yang akan melemahkan kedaulatan/menguasai kaum muslimin.

Dalam hal ini, dikenal dalam fiqih istilah kafir muhariban fi’lan, yakni kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin secara nyata. Kaum muslimin terlarang untuk menjalin kerja sama dan menerima investasi dari mereka.

Di sisi lain, Islam mengatur terkait harta dengan tiga macam kepemilikan.
Pertama, milik pribadi yaitu harta yang dibolehkan bagi pribadi…(Siti Susanti)*